Siang itu terlihat anak kecil dengan baju seragam Merah Putih berjalan menuju sekolahan di seberang rumahnya. Dengan menenteng buku dan pensil tanpa tas, anak kecil tersebut mulai menapaki halaman sekolah yang becek terkena hujan. Kaki anak kecil tersebut juga tampak kotor karena dia memang tidak mengenakan alas kaki.
Itulah pemandangan yang terlihat di sebuah SD yang terletak di desa yang kecil. Dengan segenap kesederahaaan (baca=kekurangan) yang ada, kehidupan di sana terus berjalan apa adanya. Hari berganti hari, sampai akhirnya sampailah anak kecil itu lulus SD. Kali ini untuk bersekolah SMP, dia harus menyiapkan diri untuk membiasakan memakai sepatu karena letak SMP nya berada di ibukota kecamatan yang suasananya lebih maju. Hal yang membuatnya risih karena tidak terbiasa kakinya terbungkus sepatu.
Sekolah di tingkat SMP tentu saja cukup berbeda dengan sekolah di tingkat SD. Lebih banyak yang harus dipelajari meskipun ada satu hal yang selalu sama, yaitu bahwa anak tersebut selalu belajar dalam temaram lampu minyak kalau malam hari karena belum ada listrik di desa tersebut. Bahkan ketika dia masuk SMA, listrik juga belum ada. Untungnya ketika mau naik kelas 2 SMA, listrik mulai masuk ke desanya.
Jangan tanya tentang kehidupan ekonomi anak tersebut. Di tengah gemerlap kota kecil dimana dia bersekolah SMA, kesederhanaan adalah makanan kesehariannya. Ketika teman-temannya sudah dipercaya untuk memegang sepeda motor oleh orang tuanya, dia harus berpuas diri dengan naik sepeda onthel dan dilanjutkan naik angkutan kota ke sekolah. Sementara teman-temannya mempunyai uang jajan yang banyak, dia harus berusaha menahan diri dari pemborosan.
Waktu terus berlalu. Usianya sekarang hampir mencapai 30 tahun. Meskipun dia sekarang bukanlah milyarder, dia cukup senang dengan apa yang dia raih sekarang. Untuk ukuran anak ndeso, sudah bisa menulis di blog aja sudah merupakan pencapaian yang bagus meskipun mungkin orang lain sudah jauh melejit.
Merupakan suatu kebanggaan baginya untuk terlahir dari desa kecil dan penuh kesederhanaan yang mungkin tidak semua orang pernah memiliki masa lalu itu atau mungkin banyak orang yang tidak mau mengakui itu sebagai hal yang membanggakan. Dia bangga dengan semua itu dan berharap hal itu membuatnya lebih peka terhadap kekurangan yang dihadapi orang lain.
Tidak masalah baginya jika dia sekarang baru berada di titik 5 padahal orang lain berada di titik 10 karena sesungguhnya dia berangkat dari posisi -5 (minus 5) sehingga dia telah melompat 10 point. Sedangkan orang lain mungkin saja berangkat dari titik 4 sehingga jika sekarang berada di titik 10, orang itu hanya melompat 6 point. Yang lebih penting lagi adalah, orang bukan dinilai dari apa yang telah dicapai atau didapatkan saja tetapi juga dari apa yang diperbuat. Dari titik manapun kita berangkat dan di titik manapun kita berada sekarang kita harus yakinkan diri kita bahwa kita telah berbuat kebaikan dan kebermanfaatan untuk sesama.
Aku bangga menjadi dia.
