Dalam film kartun serial The Backyardigans ada salah satu episode yang bercerita tentang pemburu emas dan ilmuwan pencari fosil dinosaurus di Bukit Dakota Selatan. Tokoh dalam film kartun itu adalah Pablo, Tyron, Tasha, dan Uniqua. Para pencari harta terpendam itu mempunyai kebiasaan berteriak “eureka” jika menemukan apa yang mereka cari. Berhubung film yang ditayangkan di salah satu TV swasta yang saya tonton menggunakan dubbing maka yang terdengar adalah kalimat “aku menemukannya” sebagai terjemah kata “eureka”.
Terus terang saya mengenal akrab kata “eureka” dari film kartun tersebut yang kebetulan salah satu film favorit anak saya. Baru setelah itu saya mencoba search lebih dalam ke internet tentang kata “eureka” yang ternyata berasal dari ucapan Archimedes ketika dirinya mendapatkan ide tentang bagaimana cara mengetahui apakah mahkota emas milik raja benar-benar terbuat dari emas murni yang disediakan raja, tidak dicampur bahan lain. Archimedes menemukan jawaban itu ketika dirinya menceburkan diri ke dalam bak mandi dan didapatinya sebagian air di bak mandi tumpah ke luar bak. Cara itulah yang dia gunakan untuk mendeteksi apakah bahan emas murni yang diserahkan raja ke pembuat mahkota tidak dicampur dengan bahan lain. Archimedes meminta sejumlah emas murni yang sama persis banyaknya dengan jumlah yang diserahkan ke pembuat mahkota kemudian dia masukkan ke dalam tempat air yang penuh. Air yang tumpah dari tempat air diukur dan dibandingkan dengan volume air yang tumpah ketika mahkota yang terbuat dari emas dimasukkan ke dalam tempat air yang sama.
Kata “eureka” diteriakan dengan nuanasa gembira sekaligus takjub karena si peneriak bisa menemukan sesuatu yang dicari atau rahasia yang lama tidak terpecahkan. Memang, dalam kehidupan kadang kita tidak bisa mengerti (baca: memaknai) peristiwa yang ada di sekitar kita atau yang terjadi pada diri kita. Setidaknya seperti itulah yang terjadi pada diri saya ketika sekitar 6 bulan yang lalu ditempatkan di unit DJP di Jakarta yang jauh dari keluarga.
Saat itu belum terjawab kenapa saya harus berada di situ, tidak di Bojonegoro, atau Madiun yang merupakan home base saya. Yang jelas, begitu saya datang ke tempat kerja saya yang baru, saya cukup kaget ketika salah satu pejabat di tempat kerja saya ternyata mempunyai nama yang mengandung unsur kata “eureka”. Hal itu mengingatkan kembali pada film kartun kesukaan anak saya.
Minggu-minggu pertama di tempat baru masih diselimuti keterasingan dan pertanyaan yang belum terjawab. Untungnya salah satu teman baik saya mengingatkan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Meski saya belum menemukannya tapi saya mencoba meyakini itu dan berusaha untuk menerima dengan lapang dada.
Waktu berlalu, beban yang dulu terasa berat berangsur meringan dan menjadi hal yang biasa. Sekarang saya sudah bisa membuat list kalimat yang menyenangkan yang saya alami selama sekitar enam bulan berada di tempat baru. Di antaranya adalah:
- 1. Lebih bisa menghargai arti penting keluarga dan hati kami lebih dekat meskipun hanya berjumpa Sabtu-Minggu saja 2. Pengeluaran membengkak tapi sangat jelas pos dan kualitasnya, yaitu untuk transport untuk mencari nafkah sekaligus mengabdi pada negara dan juga untuk menjenguk keluarga
- 3. Bisa mempunyai Kartu KORPRI yang memberikan diskon 10% untuk tiket perjalanan memakai kereta api
- 4. Merasakan perjalanan kereta api tiap minggu yang mana kata Pak Kyai ,” salah satu saat mustajabnya suatu doa adalah saat dalam perjalanan”. Selain itu bisa tiap minggu memotret kereta api untuk anak saya yang pecinta kereta dan membelikan majalah Kereta Api ketika sesekali naik kereta eksekutif.
- 5. Mengenal buku “Quantum Ikhlas” dan mempraktikkan beberapa saran di buku itu yang cukup “mengubah” pola pikir saya
- 6. Bertemu dengan orang, tempat dan momen yang pas untuk mengasah keterampilan menulis
- 7. Bisa belajar mempraktikkan disiplin dan etika yang tinggi yang ternyata lebih sulit daripada menuangkannya dalan bentuk tesis
- 8. Bertemu dengan rekan-rekan dan atasan yang berkomitmen tinggi untuk kebaikan organisasi. Mudah-mudahan komitmen itu menular ke saya juga.
- 9. Berhubung berada di unit kepatuhan maka saya di/ter-pacu untuk menjadi “patuh” dulu sebelum membuat orang lain patuh.
- 10. Bertemu dengan teman kos yang baik, yang sering memberikan masukan (baca: sanggahan) atas pemikiran saya yang belum matang
- 11. Bisa lebih dekat/mudah menghubungi Wakala penjual koin dinar dirham
- 12. Bisa terus menjalin komunikasi dengan teman-teman senasib dan mencoba untuk saling menguatkan dan mengingatkan
- 13. dan lain-lain….
- Kalau diteruskan, tentu akan sangat banyak nomor yang muncul.
Meskipun keinginan untuk berkumpul dengan keluarga tetap ada, saya bersyukur sudah bisa menerima kenyataan ini dan mencoba memfokuskan kepada “betapa saya beruntung dengan hal-hal di atas” daripada fokus kepada “betapa saya sedih karena jauh dari keluarga”.
Ketika saya sudah bisa mengidentifikasi setidaknya ada 12 point di atas, saya tersadar, mungkin itulah beberapa jawaban atas penempatan saya di tempat saya sekarang. Aha, inilah saatnya buat saya untuk berteriak dengan keras, “Eureka….! Aku menemukannya!” Aku menemukan jawaban, rahasia, hikmah atau apa pun itu.
Tapi, Upppsss..! Saya tidak boleh terlalu keras berteriak, ada Pak Eureka di meja seberang yang bisa saja kaget dengan teriakan saya. Nanti dikiranya saya panggil nama beliau begitu saja tanpa embel-embel “Pak”, “Mister” atau sejenisnya. Tentu saja saya tidak berani sembrono ke beliau. Lha wong saya ini kan kalah ganteng, kalah tinggi, dan kalah pinter. Apalagi beliau adalah salah satu atasan saya, tentunya harus dijaga tata krama dan unggah-ungguh yang baik.
Kali ini, biarlah saya pendam teriakan “eureka” pertama saya di dalam hati. Suatu saat saya yakin bisa berteriak “eureka” lagi, bahkan sesering mungkin yang berarti saya bisa menemukan hikmah dan rahasia Tuhan di setiap kejadian atau sesuatu. Akan tetapi, untuk selanjutnya saya tidak yakin bisa mengerem keinginan untuk berteriak dengan kencang karena menemukan “rahasia Tuhan” adalah hal yang menakjubkan. Bagaimana ini, Pak Eureka?
(Bojonegoro, akhir Oktober 2009. saat badan lemah bukan berarti hati juga lemah)