EUREKA!

CIMG1264

Dalam film kartun serial The Backyardigans ada salah satu episode yang bercerita tentang pemburu emas dan ilmuwan pencari fosil dinosaurus di Bukit Dakota Selatan. Tokoh dalam film kartun itu adalah Pablo, Tyron, Tasha, dan Uniqua. Para pencari harta terpendam itu mempunyai kebiasaan berteriak “eureka” jika menemukan apa yang mereka cari. Berhubung film yang ditayangkan di salah satu TV swasta yang saya tonton menggunakan dubbing maka yang terdengar adalah kalimat “aku menemukannya” sebagai terjemah kata “eureka”.

Terus terang saya mengenal akrab kata “eureka” dari film kartun tersebut yang kebetulan salah satu film favorit anak saya. Baru setelah itu saya mencoba search lebih dalam ke internet tentang kata “eureka” yang ternyata berasal dari ucapan Archimedes ketika dirinya mendapatkan ide tentang bagaimana cara mengetahui apakah mahkota emas milik raja benar-benar terbuat dari emas murni yang disediakan raja, tidak dicampur bahan lain. Archimedes menemukan jawaban itu ketika dirinya menceburkan diri ke dalam bak mandi dan didapatinya sebagian air di bak mandi tumpah ke luar bak. Cara itulah yang dia gunakan untuk mendeteksi apakah bahan emas murni yang diserahkan raja ke pembuat mahkota tidak dicampur dengan bahan lain. Archimedes meminta sejumlah emas murni yang sama persis banyaknya dengan jumlah yang diserahkan ke pembuat mahkota kemudian dia masukkan ke dalam tempat air yang penuh. Air yang tumpah dari tempat air diukur dan dibandingkan dengan volume air yang tumpah ketika mahkota yang terbuat dari emas dimasukkan ke dalam tempat air yang sama.

Kata “eureka” diteriakan dengan nuanasa gembira sekaligus takjub karena si peneriak bisa menemukan sesuatu yang dicari atau rahasia yang lama tidak terpecahkan. Memang, dalam kehidupan kadang kita tidak bisa mengerti (baca: memaknai) peristiwa yang ada di sekitar kita atau yang terjadi pada diri kita. Setidaknya seperti itulah yang terjadi pada diri saya ketika sekitar 6 bulan yang lalu ditempatkan di unit DJP di Jakarta yang jauh dari keluarga.

Saat itu belum terjawab kenapa saya harus berada di situ, tidak di Bojonegoro, atau Madiun yang merupakan home base saya. Yang jelas, begitu saya datang ke tempat kerja saya yang baru, saya cukup kaget ketika salah satu pejabat di tempat kerja saya ternyata mempunyai nama yang mengandung unsur kata “eureka”. Hal itu mengingatkan kembali pada film kartun kesukaan anak saya.

Minggu-minggu pertama di tempat baru masih diselimuti keterasingan dan pertanyaan yang belum terjawab. Untungnya salah satu teman baik saya mengingatkan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Meski saya belum menemukannya tapi saya mencoba meyakini itu dan berusaha untuk menerima dengan lapang dada.

Waktu berlalu, beban yang dulu terasa berat berangsur meringan dan menjadi hal yang biasa. Sekarang saya sudah bisa membuat list kalimat yang menyenangkan yang saya alami selama sekitar enam bulan berada di tempat baru. Di antaranya adalah:

  • 1. Lebih bisa menghargai arti penting keluarga dan hati kami lebih dekat meskipun hanya berjumpa Sabtu-Minggu saja 2. Pengeluaran membengkak tapi sangat jelas pos dan kualitasnya, yaitu untuk transport untuk mencari nafkah sekaligus mengabdi pada negara dan juga untuk menjenguk keluarga
  •  3. Bisa mempunyai Kartu KORPRI yang memberikan diskon 10% untuk tiket perjalanan memakai kereta api
  • 4. Merasakan perjalanan kereta api tiap minggu yang mana kata Pak Kyai ,” salah satu saat mustajabnya suatu doa adalah saat dalam perjalanan”. Selain itu bisa tiap minggu memotret kereta api untuk anak saya yang pecinta kereta dan membelikan majalah Kereta Api ketika sesekali naik kereta eksekutif.
  • 5. Mengenal buku “Quantum Ikhlas” dan mempraktikkan beberapa saran di buku itu yang cukup “mengubah” pola pikir saya
  •  6. Bertemu dengan orang, tempat dan momen yang pas untuk mengasah keterampilan menulis
  • 7. Bisa belajar mempraktikkan disiplin dan etika yang tinggi yang ternyata lebih sulit daripada menuangkannya dalan bentuk tesis
  • 8. Bertemu dengan rekan-rekan dan atasan yang berkomitmen tinggi untuk kebaikan organisasi. Mudah-mudahan komitmen itu menular ke saya juga.
  • 9. Berhubung berada di unit kepatuhan maka saya di/ter-pacu untuk menjadi “patuh” dulu sebelum membuat orang lain patuh.
  • 10. Bertemu dengan teman kos yang baik, yang sering memberikan masukan (baca: sanggahan) atas pemikiran saya yang belum matang
  • 11. Bisa lebih dekat/mudah menghubungi Wakala penjual koin dinar dirham
  • 12. Bisa terus menjalin komunikasi dengan teman-teman senasib dan mencoba untuk saling menguatkan dan mengingatkan
  • 13. dan lain-lain….
  • Kalau diteruskan, tentu akan sangat banyak nomor yang muncul.

Meskipun keinginan untuk berkumpul dengan keluarga tetap ada, saya bersyukur sudah bisa menerima kenyataan ini dan mencoba memfokuskan kepada “betapa saya beruntung dengan hal-hal di atas” daripada fokus kepada “betapa saya sedih karena jauh dari keluarga”.

Ketika saya sudah bisa mengidentifikasi setidaknya ada 12 point di atas, saya tersadar, mungkin itulah beberapa jawaban atas penempatan saya di tempat saya sekarang. Aha, inilah saatnya buat saya untuk berteriak dengan keras, “Eureka….! Aku menemukannya!” Aku menemukan jawaban, rahasia, hikmah atau apa pun itu.

Tapi, Upppsss..! Saya tidak boleh terlalu keras berteriak, ada Pak Eureka di meja seberang yang bisa saja kaget dengan teriakan saya. Nanti dikiranya saya panggil nama beliau begitu saja tanpa embel-embel “Pak”, “Mister” atau sejenisnya. Tentu saja saya tidak berani sembrono ke beliau. Lha wong saya ini kan kalah ganteng, kalah tinggi, dan kalah pinter. Apalagi beliau adalah salah satu atasan saya, tentunya harus dijaga tata krama dan unggah-ungguh yang baik.

Kali ini, biarlah saya pendam teriakan “eureka” pertama saya di dalam hati. Suatu saat saya yakin bisa berteriak “eureka” lagi, bahkan sesering mungkin yang berarti saya bisa menemukan hikmah dan rahasia Tuhan di setiap kejadian atau sesuatu. Akan tetapi, untuk selanjutnya saya tidak yakin bisa mengerem keinginan untuk berteriak dengan kencang karena menemukan “rahasia Tuhan” adalah hal yang menakjubkan. Bagaimana ini, Pak Eureka?

(Bojonegoro, akhir Oktober 2009. saat badan lemah bukan berarti hati juga lemah)

KERETA API DAN KESEMPURNAAN

WEB

Beberapa tahun lalu, saat saya masih tinggal bersama keluarga di Madiun, kami (saya sekeluarga) melakukan perjalanan pulang kampung ke Purbalingga, tempat orang tua saya. Berhubung saat itu musim Lebaran maka alat transportasi yang saya pilih adalah kereta api, alat transportasi yang cukup nyaman meski harganya menjadi berlipat saat Lebaran. Perjalanan dari Madiun ke Purbalingga cukup lancar dan kami bisa sampai di stasiun Purwokerto yang kemudian dijemput oleh saudara saya untuk meneruskan perjalanan ke Purbalingga sekitar 40 km lagi.

Setelah beberapa hari di Purbalingga kami kemudian kembali ke Madiun, tentu saja menggunakan kereta api juga. Saat itu kami menggunakan kereta Bima dari Jakarta tujuan Surabaya yang melewati Purwokerto dan Madiun. Sekitar jam 21.30 kami sudah di stasiun Purwokerto untuk menunggu kereta tersebut. Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit, satu jam menunggu, kami masih mencoba sabar. Tapi ternyata penantian kami belum berakhir, bahkan sampai dua jam. Setelah bertanya ke petugas stasiun, ternyata ada kereta yang anjlok sehingga kereta kami terhambat.
Akhirnya, sekitar jam 02.30, kereta datang juga. Kami yang membawa bayi di bawah satu tahun saat itu telah ssaling bergantian berkali-kali memangku si kecil di kursi tunggu. Untung saja anak kami tidak masuk angin meski telah menunggu di kursi tunggu (saat itu belum ada ruang tunggu eksekutif) selama lima jam. Saat itu saya berpikir betapa kacaunya sistem perkeretaapian di negara kita. Saya pikir wajar saat itu saya “marah” karena kereta api terlalu sering terlambat. Memang seperti itu, kadang telat 30 menit, satu jam bahkan lebih.
Meskipun kereta seringnya terlambat, saya tetap memilih kereta sebagai transportasi favorit. Pulang kampung berikutnya juga saya memakai kereta api, masih dengan kereta yang sama, rute sama dan harga yang tentunya lebih mahal. Kali ini yang saya alami cukup berbeda. Ketika kami berada di Purbalingga, mobil yang akan mengantar kami ke stasiun Purwokerto ternyata tidak kunjung datang menjemput kami, padahal jarum jam saat itu sudah menunjukkan jam 20.30. Idealnya untuk mencapai jadwal kereta di stasiun Purwokerto jam 21.45, kami berangkat jam 20.30 karena perjalanan ke Purwokerto sekitar 45 menit sampai dengan 1 jam.

Saat itu sampai dengan jam 21.00, mobil belum juga datang. Baru ketika waktu menunjukkan jam 21.15 mobil baru datang. Kami segera bergegas untuk berangkat dan sepanjang perjalanan kami hanya bisa berdoa dan berpasrah sambil bersiap mental jika kereta sudah lewat. Sampai di Stasiun Purwokerto saat itu sudah jam 22.05. Kalau jadwal keretanya jam 21.45, kereta seharusnya sudah lewat. Segera kami turun dan bertanya ke petugas stasiun. Ternyata saat kami bertanya, kereta api Bima baru saja tiba di stasiun Purwokerto. Pas, aku pikir. Segera kami masuk ke kereta dan bersyukur “habis-habisan” setelah kami duduk di dalamnya.

Sekian waktu berlalu, ternyata ada yang terlewat dari apa yang telah saya alami. Setelah dipikir-pikir, saat kereta api datang terlambat setelah saya menunggu lama, saya marah, “menghujatnya” dan mengatakan “tidak profesional” pada PT KAI. Akan tetapi sebaliknya ketika saya tidak jadi terlambat naik kereta justru karena keretanya datang terlambat saya malah bersyukur. Sama-sama terlambat keretanya, tapi beda perasaan saya.

Ah, ternyata saya egois, memikirkan diri sendiri, dan tidak konsisten. Kalau saya menuntut kereta api untuk selalu tepat waktu, harusnya saya tidak boleh berharap bisa naik kereta ketika saya datang setelah jam keberangkatan kereta.
Setidaknya, saya mendapat pelajaran bahwa kadang dari ketidaksempurnaan kereta api saya malah mendapat kemudahan (tidak terlambat kereta). Meskipun demi kesejahteraan bersama kita harus berusaha mendekati sempurna sekuat yang kita bisa tapi mungkin saya harus mulai menerima ketidaksempurnaan yang ada di dunia ini, tidak hanya kereta api tapi apa pun yang terjadi yang tidak sesuai keinginan saya. Menuntut kesempurnaan hanya menghasilkan kekecewaan jika tidak dibarengi dengan keikhlasan dalam menghadapi kenyataan. Lebih baik melapangkan dada ketika terdapat kenyataan yang kurang berkenan.

Demikianlah, ternyata hidup tidak selalu seperti kenyataan. Bagi pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP), ada mutasi/penempatan, grade yang mempengaruhi tunjangan, promosi, hubungan kerja dengan atasan, beban kerja yang berat, target yang harus terpenuhi dan lain-lain. Tidak semuanya sesuai keinginan kita. Kita tidak bisa menuntut semuanya sempurna. Selalu saja ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita harus memilih, menghujat kenyataan itu atau belajar menerima dengan lapang dada karena sesungguhnya ada skenario yang cantik yang Tuhan siapkan dengan ketidaksempurnaan itu yang akan kita peroleh jika membuka mata hati kita dan berusaha memaknai semua hal dengan positif. Wallohu a’lam.

Pejuang Tangguh

“Tadi pagi anak pertamaku menangis mencariku yang biasanya ada ketika dia terbangun’, ucap temanku setelah dia membaca sms dari istrinya. ”Seperti tersayat hatiku, sedih rasanya meninggalkan si kecil”, lanjutnya dengan suara yang pelan.

Aku tidak bisa banyak komentar mendengar cerita teman seangkatanku yang baru saja ditempatkan di Jakarta. Dengan penempatannya itu, setiap Jumat sore dia pulang ke rumahnya di Pantura Jawa dan hari Minggu malam berangkat ke Jakarta. Aku juga tidak bisa berkata banyak ketika dia bercerita betapa berat hatinya saat Minggu malam karena harus kembali berangkat meninggalkan keluarganya untuk bekerja.

Lain lagi cerita temanku yang satunya. Saat aku berkirim sms, dia baru bisa menjawab 4 jam kemudian, “Sory, baru bales, barusan angkut-angkut. Kami jadi pindahan hari ini ke Jakarta. Sedih banget harus meninggalkan rumahku….”

Teman keduaku ini terpaksa memboyong keluarganya ke Jakarta, meninggalkan rumah yang dia beli di Yogyakarta yang baru ditempati selama sekitar 1 tahun. Rumah yang tentu saja dia dapatkan dengan segenap perjuangannya. Kini dia kembali menempati kontrakan yang dulu dia tempati saat kuliah di Jakarta.

Kedua temanku tersebut mengalami perubahan keadaan dan pola hidup dengan penempatan mereka. Mereka adalah teman satu angkatanku yang selalu bersamaku ketika menjalani tugas belajar baik di Banten maupun di kaki Gunung Merapi. Aku sangat memahami perasaan mereka. Bukan karena mereka adalah teman karibku yang telah bersama selama bertahun-tahun tapi karena aku juga pernah mengalami apa yang mereka alami. Aku ingat betul ketika aku dan keluargaku harus meninggalkan rumah kami di Madiun yang baru kami tinggali selama enam bulan untuk pindah ke Bojonegoro karena istriku dimutasi ke sana. Kami pun kembali menjadi “kontraktor” (pengontrak rumah orang) sementara hutang yang berkaitan dengan rumah belum lunas saat itu. Tidak berhenti di situ, setahun setelahnya aku ditempatkan di Jakarta sehingga aku harus meninggalkan istri dan anak-anakku di rumah kontrakan tersebut dan membiasakan diri pulang tiap minggu menggunakan kereta api.

Suatu kebetulan ketika ternyata apa yang teman-temanku alami ternyata mirip dengan apa yang aku alami. Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak bersedih dengan semua yang kualami. Perlu beberapa waktu untuk mengatasi kesedihan itu. Akan tetapi, dalam kesedihan itu aku ingat teman-teman DJP ku yang lain yang mendapat cobaan yang lebih berat dariku. Satu persatu wajah teman-temanku melintas dalam pikiranku. Temanku yang berasal dari Blora harus meninggalkan keluarganya di Jawa Tengah karena dia ditempatkan di Makasar. Temanku yang berasal dari Purworejo terpisah dari istrinya yang sesama DJP, antara Ruteng dan Karanganyar (Solo). Ada lagi seorang ibu yang sedang hamil yang harus berpisah dengan suaminya di Toli-Toli. Banyak teman lainnya yang mengalami hal serupa dan mungkin lebih berat. Mereka memang hanyalah pelaksana, bukan pejabat, tapi menjadi luar biasa karena ketegaran mereka. Bagiku, mereka pantas disebut sebagai ”pejuang”.

Ketika aku ingat perjuangan para ”pejuang” itu, aku tersadar bahwa apa yang aku alami masih belum seberapa dibanding dengan apa yang mereka alami. Aku tidak tahu kapan terakhir mereka bertemu keluarganya, apakah anak-anaknya yang masih kecil masih mengingat sang ayah. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan si anak dengan jarang bertemu sang ayah. Bagaimana gelisahnya sang ayah ketika si kecil sakit. Selain itu, tentu saja sangat berat perjuangan si ibu tanpa suami di dekatnya.

Mereka adalah orang-orang yang sabar dalam doa dan harapan. Orang hebat dan pilihan, karena menghadapi situasi yang tidak mudah dan tidak semua orang bisa menjalaninya. Merekalah yang selalu yakin bahwa meskipun DJP tidak/belum bisa/perlu waktu untuk memenuhi keinginan mereka, Allah selalu mendengar keinginan, doa dan harapan mereka. Allah akan kabulkan doa mereka pada saat yang tepat. Mereka telah menemukan hikmah bahwa selalu ada hal positif dari sesuatu yang tampak tidak menyenangkan. Setidaknya mereka yakin bahwa apa yang hilang dari diri mereka akan diganti oleh Allah dengan hal yang lebih baik dan pada saatnya nanti. Mereka tidak mengandalkan siapapun agar mereka bisa tetap tegar kecuali dengan kepasrahan kepada-Nya. Mereka memotivasi diri mereka sendiri dan terus berharap dan berdoa pada Tuhan karena mereka yakin bahwa Tuhan tidak tidur.

Setelah beberapa hari, aku bertemu lagi dengan kedua teman seangkatanku itu. Kali ini aku melihat ada senyum di bibir mereka. Temanku yang satu yang akhirnya menjadi partnerku pulang tiap minggu berkata dengan tenangnya, ”Sekarang aku merasa pekerjaanku lebih bermakna. Aku mendapat pencerahan bahwa aku meninggalkan keluargaku untuk mencari nafkah bagi mereka dan untuk membaktikan diri bagi DJP. Semoga ini menjadi ibadah bagiku.” Sedangkan temanku yang dari Yogyakarta dengan mantap dan optimis mengatakan bahwa dia akan mencoba mengikuti saran Mario Teguh, ”Jangan terus terpuruk dalam kesedihan. Berdamailah dengan kenyataan yang ada dan lihatlah apa yang akan terjadi kemudian.”

Begitulah, kedua temanku kini menjadi bagian dari kelompok ”pejuang” tersebut. Kelompok yang sabar dan ridho dengan ketentuan Tuhan. Kelompok yang yakin bahwa sesudah kesulitan akan ada kemudahan karena itu memang janji Tuhan.

Kawan, kalian semua adalah pejuang tangguh yang merupakan bagian penting dari organisasi ini karena ketabahan kalian adalah inspirasi bagi yang lain untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang ada.

-oo0oo-

———————————————————————————————————

Salam untuk rekan-rekan yang telah lama terpisah dengan keluarga ataupun yang harus hijrah demi tugas negara. Gusti Allah ora sare!

Marsono, 9 Juli 2009 (Website KITSDA, DJP)

Kado Dari Tuhan

Suatu hari saat aku sedang asyik melihat portal DJP di jam istirahat tiba-tiba HP ku berbunyi dan seorang teman SMA-ku mengajak ngobrol. Karena dia teman lama, asyiklah kami berbincang. Dia bercerita bahwa dirinya baru saja kecopetan HP saat naik bus umum. Dari nada suaranya tidak terlihat kesedihan atau kegeraman.

Aku jadi penasaran dan bertanya, “Wah, tabunganmu banyak ya, kelihatannya asyik-asyik aja dengan hilangnya HP mu?” Pertanyaanku dijawab dengan tawanya yang meledak. Hal ini membuatku semakin yakin bahwa dia memang mempunyai banyak uang sehingga tidak sedih dengan hal itu.

Akan tetapi sesaat kemudian terdengar suaranya dengan nada serius. “Ketahuilah, HP itu aku beli dari penyisihan gajiku selama enam bulan. Aku sangat ingin memiliki HP model itu hingga kukekang semua pengeluaranku. Istriku sendiri sebenarnya tidak setuju dengan hal itu. Dan memang Tuhan berkehendak lain, aku hanya bisa memegang HP itu selama seminggu. Untungnya istriku tidak memarahiku” ucapnya.

“Kenapa kamu tampak nggak sedih?” tanyaku penasaran. “Ya, saat aku tahu HP ku hilang, aku sangat sedih, tapi begitu aku tahu bahwa aku hanya kecopetan HP, dompetku selamat dan tas berisi dokumen penting kantor juga tidak hilang, aku lantas bersyukur. Tuhan masih menyelamatkanku. Tuhan masih menyayangiku. Bisa jadi seharusnya aku kecopetan semua benda-benda berhargaku tapi dengan kasih saying-Nya, hanya HPku saja yang hilang….”

Aku tercengang mendengar jawabannya. Belum sempat aku berkomentar, dengan lantang dia meneruskan ucapannya,”Aku berkeyakinan bahwa setiap amal baik kita akan kembali ke kita. Beberapa saat sebelum aku kecopetan, aku baru saja menginfakkan uang saat solat jumat. Kalau dipertanyakan kenapa infakku tidak mencegahku dari musibah kecopetan maka jawabannya seperti tadi, bisa jadi harusnya aku kehilangan juga dompet dan tasku yang mungkin berakibat pada pemecatanku. Akan tetapi Tuhan menolongku dengan hanya HP saja yang terambil oleh pencopet tersebut.”

Aku masih penasaran dengan jawaban temanku tersebut sehingga kuberanikan diri untuk menanyakan kepadanya, “Bagaimana kamu yakin bahwa Tuhan sebenarnya menyelamatkan dari musibah yg lebih besar?” “Mungkin memang tidak tepat seperti itu, tapi aku yakin setiap kejadian ada hikmahnya. Kewajiban kita adalah berprasangka baik kepada-Nya. Terkadang kita perlu waktu lama untuk mengetahui hikmah sebenarnya. Sekali lagi aku percaya bahwa setiap hal yang terjadi adalah kado dari Tuhan kita. Hanya saja, terkadang kado tersebut dibingkai sedemikian rupa sehingga untuk membukanya kita memerlukan kesabaran. Kesabaran kita dalam membuka bingkai kado tersebut akan memberikan nilai ibadah tersendiri.”

Aku terdiam mencoba memahami ucapan teman lamaku yang mulai berfilsafat. Akan tetapi tiba-tiba dia berteriak, “Heee…. kok melamun. Ya udah ya, aku mau kerja lagi. Besok disambung lagi”. Akhirnya pembicaraan kami berakhir, tapi aku masih penasaran dengan sifat optimistis teman lamaku yang aku tahu bahwa gajinya jauh di bawahku.

Beberapa menit kemudian akhirnya aku mengirim email curhat ke dirinya dan dibalas dalam hitungan menit olehnya. “Jangan bersedih kawan, bagaimanapun pedihnya jauh dari keluarga, itu adalah kado dari Tuhanmu. Bukalah bingkai kado itu dengan kesabaran dan kamu akan mendapatkan hadiah sesungguhnya dari Tuhan. Jadikanlah kebiasaanmu pulang tiap minggu ke keluargamu sebagai amalan yang mulia. Mungkin pengeluaranmu menjadi sangat besar tapi kualitas pengeluaranmu menjadi meningkat, yaitu untuk transport pulang ke rumah, untuk bertemu keluarga, memberikan pendidikan pada anak-anakmu dan memberikan ketenangan kepada mereka. Ketika kamu berangkat ke Jakarta lagi untuk mulai bekerja maka perjalananmu menjadi sangat mulia karena kamu berangkat untuk mencari nafkah dan juga mengabdi pada negaramu. Semakin besar pengorbanan seseorang semakin besar juga balasannya. Dan ini yang paling penting, bisa jadi kalau pekerjaanmu dekat dengan keluargamu dan uangmu menumpuk kamu menjadi tidak bijak dalam mengelola uangmu sehingga pengeluaranmu hanya untuk hal yang kurang bermanfaat dan tentu saja kualitas pengeluaranmu tidak sehebat kualitas pengeluaranmu sekarang.”

Aku kembali termenung, ternyata kawan lamaku sangat menghayati hidup. Terlihat betul sikapnya yang positif dalam memaknai kehidupan. Bahkan musibah yang dihadapi dia tanggapi secara tenang dengan tetap berprasangka baik kepada Tuhan. Pikiran positifnya membuat dia menjadi orang yang bersyukur dan optimis.

Marsono, 8 Juni 2009 (website KITSDA DJP)

Keterpencilan yang Menguatkan

Tidak terasa, setahun sudah kepindahan kami dari Madiun ke Bojonegoro. Dalam bahasa yang bombastis, kepindahan kami karena tugas negara yang diemban oleh istriku. Meskipun kepindahan istriku bisa dipandang dari sudut lain, misalnya, ada yang mengatakan bahwa itu sebagai korban karena tidak punya ”backing”, tidak ”ngurus” dan sejenisnya sehingga istriku terlempar dari Madiun. Intinya, karena bukan siapa-siapa, dan sistem mutasi belum bagus, diduga istriku merupakan salah satu korban kondisi tersebut. Meskipun ada kejanggalan yang mendukung, kami tentu saja tidak bisa serta merta menganggap hal itu sebagai kebenaran. Bisa dituntut kalau ngomong sembarangan tanpa bisa membuktikan. Wallahu a’lam.

Pertama ke Bojonegoro, banyak kesedihan yang kami rasakan. Meninggalkan rumah sendiri, harus ngontrak rumah, jauh dari kerabat dan banyak keterbatasan di Bojonegoro, misalnya, tidak ada taksi, tidak ada Matahari, Sri Ratu, Giant, Carefour dsb. Ketika waktu terus berjalan, lama-lama kami mulai terbiasa dengan keterbatasan itu. Pengalaman spiritual yang kami alami merupakan pengalaman berharga. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri rumah-rumah yang terendam air di Bojonegoro bahkan sempat juga jalanan di depan rumah kontrakan kami terendam setinggi lutut. Hal itu membuat kami bisa ikut merasakan penderitaan para korban banjir. Setidaknya bersyukur bahwa di tengah ketidaknyamanan kami karena kepindahan kami ke Bojonegoro, ternyata masih banyak orang yang bernasib lebih buruk, seperti kehilangan harta benda dan bahkan nyawa.

Selain itu, dengan pindah ke Bojonegoro, kota yang lebih sepi dari Madiun, kami bisa merasakan ketika sesekali pulang ke Madiun, bahwa jalan-jalan di Madiun sangatlah menyenangkan, Matahari yang dulu kami anggap biasa karena terlalu sering ke sana, sekarang menjadi luar biasa karena tidak ada Matahari di Bojonegoro. Demikian juga fasilitas lain di Madiun, semua menjadi luar biasa. Padahal, mungkin saja bagi orang yang tinggal di Madiun, kondisi Madiun biasa saja. Apalagi orang kota (Jakarta) pasti melihat Madiun sebagai kota yang sepi dan serba terbatas. Jadi, dengan pindah ke Bojonegorolah kami bisa lebih menghargai kota asal kami, mendapat sensasi yang lebih dibanding orang lain, ketika pulang ke Madiun.

Sisi lainnya adalah, dengan bekerja di Bojonegoro, istriku bisa memberikan ASI eksklusif secara penuh ke anak kedua kami. Hal ini belum tentu bisa dilakukan ketika istriku bekerja di Madiun, karena suasana kantor dan kekeluargaan kantor di Bojonegoro ternyata sangat baik dan kondusif.

Begitulah, hikmah dari suatu peristiwa memang seringnya diketahui setelah berlalu sekian waktu. Banyak hikmah lain yang lebih mendasar yang kami rasakan. Keterpencilan kami di Bojonegoro alhamdulillah telah memperkaya dan menguatkan jiwa kami. Allah Mahaadil dengan memberikan sesuatu sesuai porsinya.

Kalau harapan kami untuk kembali ke Madiun belum terkabul, pasti memang ada rahasia Allah di baliknya. Kami akan kembali ke Madiun jika memang sudah waktunya menurut Allah. Yang perlu kami jaga adalah jangan sampai kami melakukan usaha yang tercela untuk kembali ke Madiun karena tidak akan ada keberkahan dari suatu ketercelaan. Allah mempunyai skenario yang terbaik untuk kami sehingga kami yakin bahwa jika memang kami adalah orang yang tertindas karena ketidakadilan yang tidak kami ketahui maka Allah lah yang akan membalasnya. Orang boleh saja membuat tipu daya tapi Allah-lah sebaik-baik pembalas tipu daya.

« Entri lama
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.